KOTA SALATIGA

SALATIGA

 

Kota Salatiga (bahasa Jawa: ꦏꦸꦛ​ꦯꦭꦠꦶꦒ, translit. Kutha Salatiga, pengucapan bahasa Jawa: [kuʈɔ sɔlɔˈt̪igɔ]) adalah sebuah kota yang berada di provinsi Jawa Tengah, Indonesia, yang berbatasan sepenuhnya dengan Kabupaten Semarang. Kota Salatiga terletak 49 kilometer di sebelah Selatan Kota Semarang dan 52 kilometer di sebelah Utara Kota Surakarta, serta berada di jalan negara yang menghubungkan antara Kabupaten Semarang dengan kota Surakarta. Jumlah penduduk kota Salatiga hingga akhir tahun 2020 berjumlah 192.322 jiwa.

 

Sejarah
Dahulu kala di daerah pedalaman, berkuasalah seorang bupati bernama Ki Ageng Pandan Arang (Pandanaran). Ki Ageng Pandan Arang hanya memuaskan diri dengan kekayaannya dan memeras rakyat dengan menarik pajak yang berlebihan. Pada suatu hari, Ki Ageng Pandan Arang, bertemu dengan pak tua, tukang rumput. Kemudian Ki Ageng meminta rumput yang pak tua bawa. Namun pak tua menolaknya dengan alasan untuk ternaknya. Tetapi Ki Ageng tetap memintanya dan Ki Ageng menggantinya dengan sekeping uang. Tanpa diketahui Ki Ageng Pandan Arang, Pak tua menyelipkan kembali uang itu dalam tumpukan rumput yang akan dibawa. Dan hal tersebut terjadi berulang-ulang. Sampai suatu kali Sang bupati menyadari perbuatan Pak tua tersebut. Dan marahlah ia dan menganggap bahwa Pak tua telah menghinanya.

Pada saat itu, tiba-tiba pak tua berubah wujud menjadi Sunan Kalijaga seorang pemimpin agama yang dihormati bahkan oleh raja-raja. Maka bupati Pandanaran pun sujud menyembah dan memohon untuk memaafkan kekhilafannya. Akhirnya Sunan Kalijaga memaafkannya, tetapi dengan syarat Ki Ageng harus meninggalkan seluruh hartanya dan mengikuti Sunan Kalijaga pergi mengembara.

Namun istri bupati melanggar, ia membawa emas dan berlian dan memasukkannya ke dalam tongkat. Dan di tengah perjalanan mereka dicegat sekawanan perampok. Sunan Kalijaga menyuruh perampok itu untuk mengambil harta yang dibawa istri bupati. Dan akhirnya perampok itu pergi dan merebut tongkat yang berisi emas dan berlian.

Setelah perampok itu pergi Sunan Kalijaga berkata, "Aku akan menamakan tempat ini Salatiga karena kalian telah membuat tiga kesalahan". Pertama, kalian sangat kikir. Kedua kalian sombong. Ketiga kalian telah menyengsarakan rakyat. Semoga tempat ini menjadi tempat yang baik dan ramai nantinya.

 

Prasasti Plumpungan

Prasasti Plumpungan.
Pada masa Hindu-Buddha, Salatiga telah menjadi daerah istimewa sebagaimana tertera dalam prasasti Plumpungan atau prasasti Hampra. Prasasti yang berangka tahun 672 Saka atau 750 Masehi ini ditulis dengan huruf Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta. Menurut Soekarto Kartoatmadja, candrasengkala dalam prasasti Plumpungan menunjuk hari Jumat (Suk) rawâra tanggal 31 Asadha atau tanggal 24 Juli 750 Masehi. Tanggal tersebut merupakan peresmian Desa Hampra (Plumpungan) menjadi daerah perdikan. Berdasarkan prasasti ini, hari jadi Salatiga ditetapkan pada tanggal 24 Juli 750, yang dibakukan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kota Salatiga Nomor 15 tanggal 20 Juli 1995 tentang Hari Jadi Kota Salatiga.[5]

Prasasti Plumpungan berisi ketetapan hukum tentang suatu tanah perdikan atau swatantra bagi Desa Hampra di wilayah Trigramyama yang diberikan Raja Bhanu untuk kesejahteraan rakyatnya. Tanah perdikan dikenal pula dengan sebutan sima. Tanah ini biasanya akan diberikan oleh para raja kepada daerah tertentu yang benar-benar berjasa kepada kerajaan atau secara sukarela mendirikan bangunan suci keagamaan. Daerah tersebut selanjutnya menjadi daerah otonom yang dibebaskan dari pajak. Daerah Hampra yang diberi status sebagai daerah perdikan pada zaman pembuatan prasasti itu adalah daerah Salatiga saat ini. Untuk mengabadikan peristiwa itulah, Raja Bhanu menulis dalam prasasti Plumpungan kalimat Srir Astu Swasti Prajabhyah yang berarti “semoga bahagia, selamatlah rakyat sekalian”.

Melalui prasasti Plumpungan dapat diperkirakan bahwa daerah Salatiga dulu berada di bawah otoritas Kerajaan Mataram. Di sisi lain, Raja Bhanu yang disebutkan dalam prasasti Plumpungan belum dapat diketahui hubungannya dengan Kerajaan Mataram, tetapi para peneliti menyatakan bahwa seseorang yang mendirikan bangunan suci merupakan seorang bangsawan. Informasi lain yang disampaikan melalui prasasti Plumpungan menunjukkan adanya komunitas Buddha di Salatiga. Lebih dari itu, masyarakat Salatiga juga telah mengenal organisasi kemasyarakatan dalam bentuk kerajaan, meskipun wilayah Salatiga bukan merupakan pusat kerajaan.

Nama Salatiga juga diperkirakan berasal dari perkembangan nama dewi yang disebutkan dalam prasasti Plumpungan, yaitu Siddhadewi. Siddhadewi dikenal dengan nama Dewi Trisala. Nama Trisala kemudian dilestarikan di tempat dewi ini dipuja. Lokasi tersebut dinamakan Tri-Sala, yang berdasarkan kaidah hukum bahasa bisa berbalik menjadi Sala-tri atau Salatiga.

 

Pagi ini, saat memuka group RT kampung saya, ada sebuah pesan rt Bapak RT yang saya kutip sebagai berikut

“#Salatiga_1271
#UlangTahunKotaSalatiga

Sejak jaman Belanda, Salatiga sudah termasuk kota yang sangat maju. Sebagai tandanya, ditahun 1930an telah berdiri salah satu PLTA tertua di Indonesia yang berlokasi di Jelok.

Aliran listrik masuk ke Salatiga ditandai dengan berdirinya Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM) yang tersebar di beberapa titik dan bisa kita lihat hingga saat ini.

Tanda yang lain, 1 abad yang lalu tepatnya ditahun 1821 masyarakat Salatiga telah mengenal transportasi umum yang populer disebut Eerste Salatigasche Transport Onderneming (disingkat ESTO).Kehadiran perusahaan transportasi ini untuk menjawab kebutuhan mobilitas barang dan jasa yang sangat tinggi.

Listrik dan transportasi mengkonfirmasi majunya sebuah kota.

Dari sisi geografis, Salatiga bukanlah kota yang luas (dibandingkan dengan Semarang, Solo, Surabaya, dll) tetapi di kota kecil inilah pusat perkonomian berputar, terdapat Pasar Kalicacing, pasar terbesar pada jaman itu. Pasar ini adalah pusat perdagangan hasil bumi seperti karet, cokelat, kopi, dll yang dihasilkan dari perkebunan Salatiga, perkebunan Assinan, perkebunan Banaran, perkebunan Getas, perkebunan Tlogo, perkebunan Gesangan, dan perkebunan lainnya disekitar Salatiga.

Salatiga juga merupakan pusat kekuasaan. Jejak sejarahnya bisa dilihat berdirinya rumah tinggal Assitant Resident di Eropeseeche Wijk Jln. Toentangsche Weg, atau Jln. Diponegoro sekarang. Di jalan yang sama juga berdiri rumah tinggal seorang "controleur" perkebunan berkebangsaan Belanda, rumah ini pernah menjadi kediaman Letkol Inf. Soeharto saat menjabat Komandan Korem 073 Makutarama. Luasnya teritorial Komandan Korem di Salatiga menjangkau hingga ke Kudus dan Blora.

Walau tetap berpredikat kota kecil, Salatiga kini telah banyak perubahan besar. Beban ekonomi kota semakin hari semakin tinggi. Keberagaman masyarakatnya yang semakin plural berdampak pula pada beban sosial kemasyaraktan...

Selamat ulang tahun ke-1271, kotaku. Semakin tua usiamu menunjukan semakin matang dalam menghadapi semua kepelikan persolan. Kiranya Tuhan bersama Gunung Merbabu selalu menjaga kota ini.”

 

DIRGAHAYU SALATIGA #1271

Salatiga, 24 Juli 2017

 

Sumber : 

Wikipedia, group whatsapp, kanan-kiri, cerita tetangga.

Comments : To post comment, you must login first using google. No worry, it's safe
    LIST CATEGORY

ndalu.id vultr
Hosting Unlimited Indonesia